1 June, Pancasila Day

Majority and minority will always be there in our circle.

In my country, we have celebrate 1 June as the birthday of Pancasila. Pancasila is our ideology which generally has a meaning, bhinneka tunggal ika or diversity in unity. This day has reminded us that our country was born of the cultural diversity. Even though there are the lines between them, won’t it be wonderful if the diversity could support each other in developing our country? 🙂

#PekanPancasila #SayaIndonesiaSayaPancasila

Advertisements

Gaji Bulananku Buat Apa Ya?

Kita bisa ngapain aja yang kita mau ketika sudah bekerja dan dapat penghasilan sendiri. Kita bisa jalan-jalan, makan-makan, bahkan shopping sepuasnya!! Tapi, pernah nggak kita berpikir tentang apa yang bisa dilakukan buat keluarga kita?

Orang tua mungkin tidak pernah meminta, tetapi tidak ada salahnya memberikan sebagian hasil jerih payah kita. Anggap saja sebagai bentuk rasa syukur atau terima kasih kepada keluarga yang selalu mempedulikan kita. Kita tidak perlu memberikannya dalam bentuk uang atau barang mewah. Kita bisa melakukannya melalui tindakan yang mempererat hubungan keluarga kita masing-masing. Bentuknya beragam, misalnya ngajak keluarga makan di luar, ngajak nyokap belanja bulanan di supermarket atau belanja baju di department store, ngajak bokap minum kopi di kedai kopi yang branded, atau ngajak adik jalan ke mal.

Semua itu tampak menyenangkan jika dilakukan, tetapi kita tidak boleh sembrono dalam menggunakan uang. Pengelolaan keuangan pribadi harus dilakukan. Aktivitas-aktivitas yang memerlukan biaya juga baiknya mulai dipertimbangkan frekuensinya. Jika tidak, kita tidak akan pernah belajar untuk menabung untuk kepentingan/investasi masa depan. Intinya, jangan menghamburkan uang secara berlebihan.

Terkadang, saya memikirkan bagaimana mengatur keuangan saya jika sudah punya penghasilan tetap sendiri. Sekarang masih menganggur gitu statusnya, hiks. Jika gaji bulanan saya sekitar Rp3.000.000,00 saya berencana untuk membagi dua uang tersebut. 50% untuk ditabung dan 50% lainnya untuk digunakan. 50% gaji bisa digunakan untuk aksi-aksi kekeluargaan yang sudah disebutkan atau bisa digunakan untuk membantu membayar tagihan listrik/PLN, telepon/telkom, membeli pulsa ponsel, atau menyumbang anggaran belanja bulanan. Eh, yang penting jangan pengeluaran pribadi seperti uang jajan dan biaya transport untuk bekerja juga diikutsertakan ya. Masak masih minta duit jajan dan duit bensin sama ortu?

Ketika sudah memiliki penghasilan sendiri, baiknya kita mulai menengok keluarga kita. Tidak selamanya orang tua terus bekerja mencari nafkah. Tidak selamanya kita terus mengandalkan mereka, karena kita bukan anak SD atau anak SMP yang kalau mandi harus ditereakin dulu. Semua ada masanya, dan kini waktunya kita yang sudah cukup dewasa untuk lebih peduli terhadap keluarga 🙂

Electronic Books or Printed Books?

This topic was given by Kompas Kampus in Harian Kompas: Tuesday, 18 August 2015. I tried to write again and sent it. How lucky I am, my writing was published in the newspaper a week later. Then, I tried to translate it into English. Like writing exercise 😛

Books are the most frequently used literature or references, even for students. It divides into 2 physical forms, printed and electronic (e-book). Every student has their favorite kind of books with their own reasons. Some students love reading printed books because they feel they understand the content more by handling the book. Some students enjoy reading electronic books because of the simplicity and sure that the books won’t take lots of space.

I prefer the printed books than the electronic books, because I get tired easily when I look at the screen. Papers are more comfortable for my eyes. Usually, I get the books through friends or library by borrowing them, or buy them at the bookstore or online. I also love collecting the books I’ve read.

But, if there is a book that hard to get, e-book becomes the solution. It also can be read through your gadget like smart phone, tablet, or laptop. Even though it seems so modern, e-book can be people’s enemy who  have no knowledge about technology. So, as young generation, we should be open to the printed books and the electronic books.

patriciaahilman_article2

Social Media Nowadays

Hi, guys. It is my first time to publish my thought in English. How bad my English is. Haha but I’m still learning 😛 So, here it is, social media nowadays in my opinion.

I am sure that most people in Indonesia (including me) has a social media account. Ya, at least one. You know, like Facebook or Twitter. Place where we can share thoughts and moments. But have we used it properly?

What I mean..ya, social media is a room that we can share anything there. We can share good and silly experiences. We share feelings. But, is it good when we share our conflicts there? Conflicts with our couples, spouses, parents, friends, enemies, or even ourselves. I think it’s a big “no“. It is okay to let our bad feelings go freely, but it isn’t okay to put our conflicts within.

Cause when we do, we let people know what’s going on in our circle, we let them know how fragile we are, and may be we let them know how miserable we are. Then, they can talk behind our back with their guys -_- May be you don’t care what people said, but I do. I wonder why some people like to share their conflicts on their Facebook and it’s also seen by friends or even public D: Social media can’t solve our problems. It just makes us feel popular, being known. The worst, it can judge us as a kind of person that we don’t. If we dont want the conflict becomes bigger, than solve it by talking with the people who are involved. May be it isn’t easier, but I think it’s better.

So what world knows is just you are a really happy person and world will envy about your happiness.

Share our happy moments with people, not that damn fire 😀

Pro Kontra Hukuman Mati Kasus Narkoba di Indonesia

Saat ini sedang hangat-hangatnya kasus hukuman mati bagi pengedar narkoba di Indonesia. Dari yang pro sampai kontra sama keputusan tersebut, marak di sosial media. Lucu deh, ada yang ledek-ledekan gitu di kolom komentarnya :))

Kalau ditanya gimana pendapat saya tentang hukuman mati tersebut, saya setuju. Terdengar tidak manusiawi ya? Bagaimana pun, sanksi atau hukuman telah dibuat sebelum penangkapan terjadi. Karena Indonesia adalah negara hukum yang berdaulat, tidaklah salah jika sanksi tersebut diberikan dan dilaksanakan. Toh, si pelaku pun secara sadar menjadi pengedar. Mungkin mereka hanya tidak mau cari tahu kalau negara kita ini punya sanksi-sanksi berat pada penyalagunaan narkoba. Jadi ya, mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan itu.

Memberi hukuman mati, bukan berarti tidak memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) orang yang bersangkutan. Memberikan hukuman mati, berarti memperjuangkan lebih banyak HAM. Pertentangan batin pasti dirasakan pemerintah dan pelaksana eksekusi. Hukuman mati itu termasuk membunuh, tapi ada alasan hukumnya. Saya pernah dengar, kita perlu berkorban untuk mencapai hasil yang baik nantinya. Mungkin itu benar. Kalau kita membiarkan pengedar tersebut hidup, apakah menjadi jaminan kalau mereka membantu kita memberantas narkoba? Sukur-sukur bantu sebut partner-partnernya, masih dalam tahanan saja, mereka masih bisa berbisnis ria di balik jeruji besi. How come? Kita ngga mungkin membiarkan mereka “berkeliaran” dan mengancam masa depan masyarakat, teman-teman kita, keluarga kita. Untuk narkoba, memang butuh dipangkas hingga ke akarnya kayak cabut jamur.

Dengan sikap pemerintah yang tegas dan dukungan positif dari masyarakat, diharapkan dapat membantu membuka pikiran mereka agar hidup lebih baik. Bekerja sama memberantas narkoba dengan tidak menyalagunakannya adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Kita tidak bisa menggunakan alasan HAM untuk membatalkan sanksi. Apa gunanya hukum diciptakan, jika tidak dijalankan? Sebagai bangsa, apakah kita mau Indonesia dianggap negara yang hukumnya “gampang” di mata dunia?

Saya ingin Indonesia menjadi negara yang disegani negara-negara di dunia, karena keteguhan menjalankan hukum dengan bijak untuk kepentingan bangsa di masa mendatang..bukan karena rasa kasihan dan tekanan dari pihak-pihak yang secara tidak langsung ingin Indonesia menjadi negara “gampangan”.

Tokoh Panutan

Kalau ngomongin tokoh panutan…biasanya sosok-sosok terkenal di masyarakat seperti politisi, tokoh agama/pendidikan, artis (nggak cuma aktor/aktris loh, tapi mencakup seniman lainnya), atau duta kegiatan sosial-kemasyarakatan lah yang terlintas di benak kita. Mungkin ada dua tokoh yang saya kagumi karena pengendalian sikapnya terhadap dunia luar seperti Basuki Tjahaya Purnama a.k.a. Ahok (Gubernur DKI Jakarta) dan Lady Diana. Ahok adalah sosok pemimpin tegas yang berani bertindak cepat selama mengikuti aturan yang berlaku. Sedangkan Lady Diana adalah sosok wanita yang lembut, mandiri, dan berjiwa sosial. Meski tidak mengidolakan banget, saya menyukai bagaimana mereka berperilaku dalam kehidupan masyarakat.

Namun, di tengah masyarakat yang heterogen, baiknya kita lebih terbuka dengan beragam hal yang ada. Tidak perlu ‘mendewakan’ satu tokoh, tetapi petik saja hal-hal positif dari tokoh-tokoh berbeda. Karena setiap individu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.  Maka dari itu, akan lebih bijak bagi kita untuk menyaring hal-hal mana yang baik dan yang tidak untuk diikuti. Saya yakin, jika hal-hal positif dikembangkan, kepribadian dan karakter kita dapat terbentuk secara perlahan sebagai manusia dewasa.